![]() |
| Penulis : Muhammad Irsan Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang |
Lombok Barat NTB, Jejakfaktanews.co.id - Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita selalu berbicara tentang harapan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk generasi unggul, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik. Namun, pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini, ada satu hal mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur yaitu kemampuan fokus peserta didik kita sedang melemah. Gejala ini terasa nyata di ruang kelas, banyak siswa cepat bosan, sulit bertahan membaca teks panjang, dan mudah terdistraksi. Bahkan ketika tidak memegang ponsel, perhatian mereka seolah tidak benar-benar hadir sehingga membuat proses pembelajaran menjadi aktivitas yang terputus-putus.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data dari Data Reportal menunjukkan bahwa rata-rata waktu penggunaan internet di Indonesia mencapai lebih dari 7 jam per hari, dengan sebagian besar dihabiskan untuk bermain media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram menawarkan arus konten tanpa henti, dengan durasi singkat dan pergantian cepat.
Dalam kondisi seperti ini, otak terbiasa dengan stimulasi instan. Penelitian dalam bidang Psikologi Kognitif menyebut fenomena ini sebagai attention fragmentation perhatian yang mudah terpecah dan sulit bertahan lama pada satu objek. Gloria Mark, peneliti dari University of California Irvine, menemukan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia terhadap satu layar kini hanya sekitar 47 detik sebelum beralih ke hal lain. Angka ini memberi gambaran serius. Jika perhatian kita sudah terbiasa berpindah dalam hitungan detik, bagaimana mungkin siswa mampu bertahan memahami pelajaran yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan?
Yang terjadi kemudian bukan semata-mata penurunan kemampuan, melainkan perubahan kebiasaan. Banyak siswa sebenarnya mampu memahami materi, tetapi tidak cukup lama bertahan untuk mendalaminya. Mereka terbiasa “menyentuh” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “menyelami”. Hal ini juga tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment yang menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada pada level yang memprihatinkan, terutama dalam memahami teks panjang dan kompleks. Ini bukan hanya soal literasi, tetapi juga soal daya tahan perhatian.
Di sinilah letak persoalan mendasarnya: pendidikan membutuhkan ketekunan, sementara dunia digital membiasakan kecepatan. Pendidikan menuntut proses, sementara media sosial menawarkan hasil instan. Ketika dua logika ini bertemu tanpa jembatan, yang terjadi adalah benturan.
Sayangnya, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya merespons perubahan ini. Metode pembelajaran masih banyak bertumpu pada ceramah panjang dan materi yang tidak kontekstual. Sementara itu, siswa datang dengan kebiasaan baru yang menuntut variasi, interaksi, dan kecepatan. Tidak mengherankan jika ruang kelas sering kalah menarik dibanding layar ponsel.
Namun, menyalahkan teknologi sepenuhnya bukan solusi. Cal Newport mengingatkan bahwa “kemampuan untuk fokus tanpa distraksi adalah keterampilan langka yang semakin berharga.” Artinya, di tengah dunia yang penuh gangguan, fokus justru menjadi kompetensi penting yang harus dilatih, bukan dihindari.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menyadari hal ini. Fokus bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap otomatis dimiliki siswa. Ia harus dibangun kembali—melalui kebiasaan belajar yang lebih sadar, metode pembelajaran yang lebih adaptif, dan lingkungan yang mendukung.
Sekolah, guru, dan orang tua perlu bekerja bersama, bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengelola perhatian. Sebab di era ini, siapa yang mampu mengendalikan fokusnya, dialah yang akan mampu mengendalikan proses belajarnya. Jika tidak, kita berisiko melahirkan generasi yang terbiasa melihat banyak hal, tetapi sulit memahami sesuatu secara mendalam. Dan tanpa kedalaman, pendidikan kehilangan maknanya. (jejakfaktanews.co.id/red)




0 Komentar